[fanfiction] I Love My Brothers – chapter 1

Aku membuka mataku tepat setelah alarm selesai berbunyi. Spontan aku melirik ke arah jam dinding di atasku yang sudah menunjukkan pukul 6AM. Aku memiringkan kepalaku ke kanan. Ku lihat Taemin masih tertidur pulas dengan memeluk gulingnya.

“taemin-ah, irona…taemiiin…”

“ngghh”

“taemiiin….” aku mengguncangkan badannya pelan.

Taemin hanya menggeliat dan mengubah posisi tidurnya membelakangiku.

“haah, ya sudahlah” aku pun menyerah.

Sebenarnya aku tidak tega membangunkannya. Wajahnya terlihat sangat imut dan polos, dan itu membuatku ingin memeluknya. Namun sepertinya dia masih ingin tidur setelah semalaman penyakit tidak-bisa-tidur-di kamar-asing-nya kambuh.

Aku melangkahkan kaki ke arah kamar mandi, melakukan rutinitas setiap pagi. Setelah selesai aku menuju ke dapur dan membuatkan sarapan untukku dan Taemin serta kedua kakak (baru)ku yang nampaknya masih tertidur di kamar masing-masing.

‘ahh, kenapa pembantu di rumah ini harus pulang kampung tiba-tiba sih’ aku menggerutu dalam hati.

Setelah melihat bahan makanan yang tersedia aku memutuskan untuk membuat sandwich. Aku cukup handal dalam membuat menu yang seperti ini. Tak lupa aku membuat susu untukku dan Taemin yang masih dalam masa pertumbuhan.

Sandwich terakhir sudah hampir selesai, ketika terdengar langkah kaki menuruni tangga.

Aku bisa melihatnya melalui ujung mataku. Namja itu menghentikan langkahnya ketika melihatku. Dengan ragu aku mengangkat wajahku dan balik menatapnya, membuat pandangan kami bertemu. Ingin rasanya tersenyum melihatnya berdiri di hadapanku, namun sesuatu terasa sangat mengganjal di hatiku. Aku pun langsung mengalihkan pandanganku pada sandwich setengah jadi di tanganku. Setelah itu, tidak ada satupun dari kita yang bersuara. Aku hanya sekilas melihatnya meminum segelas air putih dan berjalan keluar dapur.

“all done!” kataku pada diri sendiri sambil tersenyum puas, lalu pergi menemui namja itu.

Kepalanya terlihat menjulang dari sofa lebar berwarna broken white di ruang keluarga. Sepertinya dia sedang menikmati pemandangan halaman melalui jendela kaca lebar di salah satu sisi seberang sofa. Melihat itu membuatku mengurungi niatku untuk bertanya.

Akupun memutuskan untuk memberitahukan kedua namja di lantai dua bahwa sarapan sudah siap. Aku tidak mau berlama-lama bersama dengan namja ini, jadi dengan cepat kulangkahkan kaki ini menuju kamar kakak tertuaku.

===

Aku mengetuk pintu kamarnya pelan. “Siwon-ssi..”

“Siwon-ssiii, sarapannya sudah siap..”

Tiba-tiba pintu itu terbuka dan seorang namja dengan wajah pangeran menampakan sosoknya.

“ah, morning, Taeyoon-ah. Kau bisa memanggilku oppa. Kita sudah satu keluarga, jadi tidak usah sungkan” katanya sambil tersenyum.

“tapi aku belum terbiasa” balasku juga dengan senyuman.

“ah, mian, tadi aku sedang di kamar mandi”

“nevermind. Kau duluan ke ruang makan saja. Aku mau membangunkan Taemin” kataku sambil berlalu menuju kamarku yang terletak di bagian selatan rumah.

===

“Taemin-ahh, irona… ayo sarapan…” kataku lembut sambil mengguncang pundaknya.

Taemin menggeliat dan membuka matanya yang indah kemudian menatapku yang sedang tersenyum.

“noona…”

‘aigoo, imut sekali dongsaengku ini!’ batinku.

Taemin bangun dan duduk menyilangkan kakinya. “noona…”

“hmm?”

“…aku tidur lagi ya?” ucapnya dengan mata yang tertutup.

“kau masih mengantuk?”

Taemin hanya nyengir mendengar perkataanku.

“aw!” seru Taemin setelah aku menyentil keningnya.

“waktunya sarapan, Taemin!” kataku pada Taemin yang tengah mengusap keningnya yang terasa nyeri.

“aku sarapan di kamar saja ya.. ya? noona? Ayolah……”

Haah, mulai lagi. Taemin sudah sangat sering bersikap manja seperti ini, dan itu merupakan senjata ampuhnya untuk membujukku.

Melihat wajahnya yang memelas ini membuatku benar-benar ingin memeluknya dan tidak akan ku lepaskan untuk selamanya. Sungguh menggemaskan!

“noona~” rengeknya lagi.

Aku terdiam sejenak, ingin melihat sampai kapan anak ini akan bertahan.

3 detik..

5 detik…

Taemin masih bertahan dengan aegyonya.

“noona~~”

Aku memutar bola mataku. “ayo turun anak manja~” kucubit pelan hidungnya. “kalau tidak kau mau MP3mu ku jual, heh?” Aku tahu dongsaengku ini tidak bisa hidup tanpa ‘barang keramatnya’ itu. Dan lagi aku tahu dia tidak punya uang untuk membelinya kembali. :p

Bisa ku lihat Taemin menggembungkan pipinya. Ah, aku tak peduli. Tepatnya, aku mencoba untuk tidak peduli. Sudah saatnya anak ini mandiri, pikirku.

“noona..” ucapnya. Kali ini dengan raut muka yang berubah sedih.

“hm?”

“aku kangen umma…”

Geez.. Kenapa dia membicarakan hal ini lagi.

“…noona sangat mirip umma”

Aku mengerutkan alisku, tidak habis pikir. Padahal dengan melihat wajahnya saja teman masa kecil umma tidak bisa membedakan Taemin dan umma. Aku? Sebenarnya bagian wajahku yang mana yang mirip umma? Sepertinya hanya hidung mancungku ini.

“ya! kau tidak lihat ini?” aku menunjuk mataku sambil tersenyum sangat lebar yang dibuat-buat, sehingga bola mataku nyaris tak terlihat. “..aku bahkan tidak mempunyai kelopak mata sepertimu. Huh..” aku memanyunkan bibirku. “umma pasti hanya mewariskan gen kecantikannya kepadamu..”

Dia tertawa mendengar kata-kataku.

“ya! Kenapa kau tertawa.. Apa, apa ada yang salah dengan mukaku, hah?”

“aniyooo, noona~”

“berhentilah tertawa! Taemin!” aku tahu wajahku memerah sekarang. Tapi biarlah, dongsaengku ini kalau tertawa maniiiiiiissss sekali. Bahkan tawanya seakan mampu menghilangkan kegalauan di hatiku saat ini.

Benar-benar tidak bisa kubayangkan hidupku tanpa dongsaengku.

“Neomu saranghae, noonaaaaa~” ucapnya sambil memelukku dari kasurnya.

====

Tidak bisa ku percaya dia ada di sini. Sosoknya yang berdiri di hadapanku, sorot matanya yang hangat, semuanya terlihat begitu nyata. Ini sama sekali bukan mimpi. Benar-benar sulit dipercaya aku dan dia tinggal di bawah satu atap.

‘Minho, kau seharusnya bahagia!’ batinku pada diriku sendiri sambil tersenyum getir.

“Minho-ya! Kau tidak sarapan?”

“hyung. Tidak, aku sedang tidak berselera”

===

Seorang yeoja sedang menerawang jauh ke angkasa biru di atas kepalanya. Sesekali menarik napas dan membuangnya ke udara bebas. Kedua tangannya sedang memegang benda bulat berkilauan yang sekarang menjadi sasarannya menerawang. Pipinya menggembung dan perlahan karbondioksida keluar dari mulutnya.

“YA!” sebuah suara nyaring tengah menjelajahi telinga yeoja itu sehingga membuatnya tersentak dan menjatuhkan benda bulat yang sedari tadi dipegangnya.

“andwae!” pekik yeoja itu. “cincinku…” ucapnya tercekat.

Yeoja itu langsung berlari meninggalkan atap sekolah dan temannya yang memasang wajah apa-yang-sudah-ku-lakukan-?.

“hh..hhh…hh..” dengan napas tersengal-sengal yeoja itu menelusuri setiap inch tanah berumput di halaman belakang ..

“kau mencari ini?” tanya seorang namja dengan sebuah cincin di tangan kanannya.

“kau…”

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s