which one?

Nama lengkap : Shin Minjung

Kelas : 3-3

Cowok target : Lee Jinki, 3-1

Other : murid teladan, aktif, berkharisma, jarang bergaul dengan cewek, dan sering “jual mahal”. Ayahnya musisi terkenal, ibunya pelukis, dan Jinki mewarisi keahlian orang tuanya. Berasal dari keluarga terhormat, memiliki seorang namdongsaeng (satu sekolah, kelas 2) yang sangat mirip namun sifatnya bertolak belakang.

 

Karakteristik : Polos dan naif. IQnya di atas rata-rata, namun tidak pernah juara kelas dan nilainya juga biasa-biasa saja, bahkan sering numpang tidur di kelas/ruang kesehatan kalau dirasanya pelajaran itu membosankan. Tapi, kalau sudah punya keinginan suka ga peduli apa kata orang lain, sangat determined, bahkan sampai bisa tidak peduli diri sendiri. Rela berkorban demi sesuatu yang ia yakini, dan akan memberikan apapun demi orang yang ia sukai. Tegar, dalam keadaan keluarganya yang retak, ia hanya sekali mengangis. Punya banyak teman, karena sifatnya yang ramah, walaupun begitu hanya sedikit yang dianggapnya teman sejati.

Dislike : keributan, 14 Februari

Like : tea, musik akustik yang tenang

Latar belakang keluarga : Minjung adalah anak yang selalu mendapatkan apa yang diinginkan, walaupun orangtuanya berasal dari kalangan berkecukupan yang kerja dari pagi sampai malam. Memiliki kakak perempuan yang berbeda 8 tahun, dan punya bisnis kecil milik pribadi. Sama seperti Minjung, kakaknya juga memiliki IQ di atas rata-rata, dan hubungan mereka tidak seperti kakak-adik biasanya karena kakaknya juga sibuk dan jarang punya waktu bersama. Punya anjing kesayangan, Yuki, temannya satu-satunya kalau di rumah. Kehidupannya di rumah sangat damai, hampir tidak ada konflik, sampai suatu hari, tepatnya di hari Valentine 3 tahun lalu, Minjung, dengan tidak sengaja, mendengar orangtuanya berkelahi karena Ny. Shin menuduh suaminya berselingkuh. Sejak saat itu hubungan antar keluarga menjadi tidak harmonis.

Kebiasaan : kalau sedang kesal, mendengar “keributan” di rumah yg tidak sengaja ia dengar, atau sedang galau, dia suka “kabur” ke tea house dekat rumah, minum teh untuk relaksasi.

Problem : Kehidupanku di rumah sungguh membosankan! Tapi, tidak di sekolah. Jinki mewarnai hari-hariku, dialah semangatku. Aku menyukai segalanya tentang Jinki. Tapi sepertinya aku tidak mengerti segalanya tentang dia. Aku tahu dia menyukaiku (jangan tanya bagaimana, aku punya banyak informan, termasuk adiknya). Dia juga tahu kalau aku menyukainya. Tapi, kenapa dia begitu cuek padaku?!! Di ulang tahunku tahun lalu, dia memberikanku hadiah. Tapi kenapa harus lewat orang lain?! Valentine tahun lalu, aku memberikannya coklat dan novel karangan penulis favoritnya, tapi kau tahu reaksinya? Dia hanya bilang “Terima kasih” lalu pergi begitu saja! Dan bahkan pernah bilang kalau tipe cewek yang disukainya adalah si Jessica, sang ratu sekolah yang terkenal pintar tapi dingin dan suka seenaknya.

Baiklah, sepertinya kalian meragukan kalau dia menyukaiku. Semuanya dia yang mulai. Di bulan pertama masuk sekolah, dia mengirim salam lewat temannya, sehingga aku mengetahui keberadaannya. Lalu, sahabat dekatnya bilang, kalau Jinki sering menatapku, dan melukisku di buku sketsanya. Waktu aku sakit di ruang kesehatan, aku juga mendengar suara gitar, dan aku yakin itu Jinki, walau aku tidak melihatnya. Dia tahu aku menyukai music akustik, dan itu membuatku baikan. Aku juga masih menyimpan kaset yang berisi musik akustik ciptaannya untukku.

Ini semua terlihat seperti aku dipermainkan oleh seorang Jinki! Aphrodite, tolong bantu aku mengetahui isi hatinya.

 

 

OR

 

 

~ Nama lengkap : Shin Minjung
~ Kelas : 3-3
~ Cowok target : Lee Jinki, 3-1
~ Other : the #1 student, suka membaca buku di perpus, murid kesayangan para guru.
~ Karakteristik : selalu mengikuti kata hatinya, kalau sudah punya keinginan,suka ga peduli apa kata orang lain, suka mengambil keputusan sendiri, kesannya tomboy dan dingin (hanya kesannya loh ;) Minjung lumayan feminin koq :) ), tegar, optimis, rela berkorban demi sesuatu yang ia yakini.
~ Dislike : keributan, warna pink
~ Like : books, tea
~ Latar belakang keluarga : Minjung adalah anak yang selalu mendapatkan apa yang diinginkan, walaupun orangtuanya berasal dari kalangan berkecukupan yang kerja dari pagi sampai malam. Anak tunggal, punya anjing kesayangan, Yuki. Kehidupannya di rumah sangat damai, hampir tidak ada konflik, sampai suatu hari, tepatnya di hari Valentine 3 tahun lalu, Minjung, dengan tidak sengaja, mendengar orangtuanya berkelahi karena Ny. Shin menuduh suaminya berselingkuh.
~ Kebiasaan : kalau sedang kesal, mendengar “keributan” di rumah yg tidak sengaja ia dengar, atau sedang galau, dia suka “kabur” ke tea house dekat rumah, minum teh untuk relaksasi.
~ Your problems?: Kehidupanku di rumah sungguh membosankan! Tapi, tidak di sekolah. Jinki mewarnai hari-hariku, dialah semangatku. Aku tahu dia menyukaiku. Dia juga tahu aku menyukainya. Hal ini adalah rahasia satu sekolah. Tapi, kenapa dia begitu cuek padaku?!! Di ulang tahunku tahun lalu, dia memberikanku hadiah. Tapi kenapa harus lewat orang lain?! Valentine tahun lalu, aku memberikannya coklat dan novel karangan penulis favoritnya, tapi kau tahu reaksinya? Dia hanya bilang “Terima kasih” lalu pergi begitu saja! Kenapa?! Aku juga tidak tahu. Aku benar” kehabisan akal. Aphrodite, please help me~!!

 

^gaje memang aku ini…. lol

[fanfiction] I Love My Brothers – chapter 1

Aku membuka mataku tepat setelah alarm selesai berbunyi. Spontan aku melirik ke arah jam dinding di atasku yang sudah menunjukkan pukul 6AM. Aku memiringkan kepalaku ke kanan. Ku lihat Taemin masih tertidur pulas dengan memeluk gulingnya.

“taemin-ah, irona…taemiiin…”

“ngghh”

“taemiiin….” aku mengguncangkan badannya pelan.

Taemin hanya menggeliat dan mengubah posisi tidurnya membelakangiku.

“haah, ya sudahlah” aku pun menyerah.

Sebenarnya aku tidak tega membangunkannya. Wajahnya terlihat sangat imut dan polos, dan itu membuatku ingin memeluknya. Namun sepertinya dia masih ingin tidur setelah semalaman penyakit tidak-bisa-tidur-di kamar-asing-nya kambuh.

Aku melangkahkan kaki ke arah kamar mandi, melakukan rutinitas setiap pagi. Setelah selesai aku menuju ke dapur dan membuatkan sarapan untukku dan Taemin serta kedua kakak (baru)ku yang nampaknya masih tertidur di kamar masing-masing.

‘ahh, kenapa pembantu di rumah ini harus pulang kampung tiba-tiba sih’ aku menggerutu dalam hati.

Setelah melihat bahan makanan yang tersedia aku memutuskan untuk membuat sandwich. Aku cukup handal dalam membuat menu yang seperti ini. Tak lupa aku membuat susu untukku dan Taemin yang masih dalam masa pertumbuhan.

Sandwich terakhir sudah hampir selesai, ketika terdengar langkah kaki menuruni tangga.

Aku bisa melihatnya melalui ujung mataku. Namja itu menghentikan langkahnya ketika melihatku. Dengan ragu aku mengangkat wajahku dan balik menatapnya, membuat pandangan kami bertemu. Ingin rasanya tersenyum melihatnya berdiri di hadapanku, namun sesuatu terasa sangat mengganjal di hatiku. Aku pun langsung mengalihkan pandanganku pada sandwich setengah jadi di tanganku. Setelah itu, tidak ada satupun dari kita yang bersuara. Aku hanya sekilas melihatnya meminum segelas air putih dan berjalan keluar dapur.

“all done!” kataku pada diri sendiri sambil tersenyum puas, lalu pergi menemui namja itu.

Kepalanya terlihat menjulang dari sofa lebar berwarna broken white di ruang keluarga. Sepertinya dia sedang menikmati pemandangan halaman melalui jendela kaca lebar di salah satu sisi seberang sofa. Melihat itu membuatku mengurungi niatku untuk bertanya.

Akupun memutuskan untuk memberitahukan kedua namja di lantai dua bahwa sarapan sudah siap. Aku tidak mau berlama-lama bersama dengan namja ini, jadi dengan cepat kulangkahkan kaki ini menuju kamar kakak tertuaku.

===

Aku mengetuk pintu kamarnya pelan. “Siwon-ssi..”

“Siwon-ssiii, sarapannya sudah siap..”

Tiba-tiba pintu itu terbuka dan seorang namja dengan wajah pangeran menampakan sosoknya.

“ah, morning, Taeyoon-ah. Kau bisa memanggilku oppa. Kita sudah satu keluarga, jadi tidak usah sungkan” katanya sambil tersenyum.

“tapi aku belum terbiasa” balasku juga dengan senyuman.

“ah, mian, tadi aku sedang di kamar mandi”

“nevermind. Kau duluan ke ruang makan saja. Aku mau membangunkan Taemin” kataku sambil berlalu menuju kamarku yang terletak di bagian selatan rumah.

===

“Taemin-ahh, irona… ayo sarapan…” kataku lembut sambil mengguncang pundaknya.

Taemin menggeliat dan membuka matanya yang indah kemudian menatapku yang sedang tersenyum.

“noona…”

‘aigoo, imut sekali dongsaengku ini!’ batinku.

Taemin bangun dan duduk menyilangkan kakinya. “noona…”

“hmm?”

“…aku tidur lagi ya?” ucapnya dengan mata yang tertutup.

“kau masih mengantuk?”

Taemin hanya nyengir mendengar perkataanku.

“aw!” seru Taemin setelah aku menyentil keningnya.

“waktunya sarapan, Taemin!” kataku pada Taemin yang tengah mengusap keningnya yang terasa nyeri.

“aku sarapan di kamar saja ya.. ya? noona? Ayolah……”

Haah, mulai lagi. Taemin sudah sangat sering bersikap manja seperti ini, dan itu merupakan senjata ampuhnya untuk membujukku.

Melihat wajahnya yang memelas ini membuatku benar-benar ingin memeluknya dan tidak akan ku lepaskan untuk selamanya. Sungguh menggemaskan!

“noona~” rengeknya lagi.

Aku terdiam sejenak, ingin melihat sampai kapan anak ini akan bertahan.

3 detik..

5 detik…

Taemin masih bertahan dengan aegyonya.

“noona~~”

Aku memutar bola mataku. “ayo turun anak manja~” kucubit pelan hidungnya. “kalau tidak kau mau MP3mu ku jual, heh?” Aku tahu dongsaengku ini tidak bisa hidup tanpa ‘barang keramatnya’ itu. Dan lagi aku tahu dia tidak punya uang untuk membelinya kembali. :p

Bisa ku lihat Taemin menggembungkan pipinya. Ah, aku tak peduli. Tepatnya, aku mencoba untuk tidak peduli. Sudah saatnya anak ini mandiri, pikirku.

“noona..” ucapnya. Kali ini dengan raut muka yang berubah sedih.

“hm?”

“aku kangen umma…”

Geez.. Kenapa dia membicarakan hal ini lagi.

“…noona sangat mirip umma”

Aku mengerutkan alisku, tidak habis pikir. Padahal dengan melihat wajahnya saja teman masa kecil umma tidak bisa membedakan Taemin dan umma. Aku? Sebenarnya bagian wajahku yang mana yang mirip umma? Sepertinya hanya hidung mancungku ini.

“ya! kau tidak lihat ini?” aku menunjuk mataku sambil tersenyum sangat lebar yang dibuat-buat, sehingga bola mataku nyaris tak terlihat. “..aku bahkan tidak mempunyai kelopak mata sepertimu. Huh..” aku memanyunkan bibirku. “umma pasti hanya mewariskan gen kecantikannya kepadamu..”

Dia tertawa mendengar kata-kataku.

“ya! Kenapa kau tertawa.. Apa, apa ada yang salah dengan mukaku, hah?”

“aniyooo, noona~”

“berhentilah tertawa! Taemin!” aku tahu wajahku memerah sekarang. Tapi biarlah, dongsaengku ini kalau tertawa maniiiiiiissss sekali. Bahkan tawanya seakan mampu menghilangkan kegalauan di hatiku saat ini.

Benar-benar tidak bisa kubayangkan hidupku tanpa dongsaengku.

“Neomu saranghae, noonaaaaa~” ucapnya sambil memelukku dari kasurnya.

====

Tidak bisa ku percaya dia ada di sini. Sosoknya yang berdiri di hadapanku, sorot matanya yang hangat, semuanya terlihat begitu nyata. Ini sama sekali bukan mimpi. Benar-benar sulit dipercaya aku dan dia tinggal di bawah satu atap.

‘Minho, kau seharusnya bahagia!’ batinku pada diriku sendiri sambil tersenyum getir.

“Minho-ya! Kau tidak sarapan?”

“hyung. Tidak, aku sedang tidak berselera”

===

Seorang yeoja sedang menerawang jauh ke angkasa biru di atas kepalanya. Sesekali menarik napas dan membuangnya ke udara bebas. Kedua tangannya sedang memegang benda bulat berkilauan yang sekarang menjadi sasarannya menerawang. Pipinya menggembung dan perlahan karbondioksida keluar dari mulutnya.

“YA!” sebuah suara nyaring tengah menjelajahi telinga yeoja itu sehingga membuatnya tersentak dan menjatuhkan benda bulat yang sedari tadi dipegangnya.

“andwae!” pekik yeoja itu. “cincinku…” ucapnya tercekat.

Yeoja itu langsung berlari meninggalkan atap sekolah dan temannya yang memasang wajah apa-yang-sudah-ku-lakukan-?.

“hh..hhh…hh..” dengan napas tersengal-sengal yeoja itu menelusuri setiap inch tanah berumput di halaman belakang ..

“kau mencari ini?” tanya seorang namja dengan sebuah cincin di tangan kanannya.

“kau…”

TBC

[fanfiction] Jira, The Sun, and The Moon (The Genesis) – phase 1

Di sebuah kerajaan yang dikenal dengan nama Kerajaan Matahari lahirlah seorang bayi perempuan bernama Jira. Para tetua telah meramalkan kelahiran sang putri yang nantinya akan memimpin dan melindungi kerajaan. Dan mereka yakin Jira-lah anak yang ada dalam ramalan itu. Terbukti dari simbol matahari di pergelangan tangan kirinya.

Anak dari raja dan permaisuri tersebut dididik dengan disiplin dan keras, menyebabkan putri Jira tumbuh menjadi gadis yang juga disiplin dan keras kepala, namun memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Walau begitu, tak sedikit orang yang takut akan sikap Jira yang dingin.

Di umurnya yang ke-21, dengan kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki, Jira membantu ketua tertinggi dari kelima jendral membuat strategi perang untuk melawan Kerajaan Naga Hitam.

Suatu hari sang raja jatuh sakit. Jira akhirnya menggantikan ayahnya berperang bersama dengan para jendral. Walapun permaisuri melarang Jira, namun sang putri sangat keras kepala. Jira yakin dengan kekuatan yang dimilikinya dia akan sanggup bertahan.

Diakhir peperangan, ketua jendral mengalami luka parah bahkan nyawanya terancam. Jira yang mengetahui hal itu, melakukan sesuatu untuk menyelamatkan sang jendral yang ternyata adalah kekasih Jira. Cintanya yang sangat dalam membuatnya berkorban untuk menyelamatkan nyawa jendral. Jira mengeluarkan mutiara putih dari dalam mulutnya dan memberikannya pada sang jendral. Dengan tidak adanya mutiara tersebut pada diri Jira, menyebabkan kemampuannya menyembuhkan diri dengan cepat hilang. Sebaliknya, sang jendral sembuh dari luka-lukanya.

Dalam perjalanan pulang, tanpa mereka sadari, dari jauh seorang musuh sedang mengarahkan panah beracun kearah sang putri. Dan ketika anak panah terlepas, dengan kencangnya melaju membelah udara dan akhirnya…

ZLEBB..

Sebuah anak panah menembus jantung putri. Para prajurit disekeliling putri terkejut dan mulai ketakutan melihat sang putri terjatuh lemas dari kuda putihnya.

Awal dari keruntuhan Kerajaan Mataharipun dimulai…

1990, Seoul

“bagaimana keadaan istri saya, dok? Bayinya?” tanya seorang pria harap harap cemas.

“istri anda baik-baik saja. Begitu juga bayinya. Selamat!” kata dokter tersenyum. “bayi anda perempuan”

“ah syukurlah” ucapnya dengan nada penuh dengan kelegaan bercampur bahagia.

“yeobo” panggil seorang wanita yang terbaring lemas pada pria yang baru saja masuk.

“chagi, kau baik-baik saja?” tanya pria itu memastikan.

“ya. Begitu juga dengan bayi kita” ucapnya sambil memandang bayi mungil disampingnya.

“ooh, lihat dia, sangat mirip denganku” kata pria itu bangga dengan senyum mengembang.

Istrinya tertawa lemas mendengarkan suaminya itu. “lalu akan kita beri nama apa anak kita?”

“Taeyoon. Kim Taeyoon”

17 tahun kemudian

*Neul Paran High School*

Di salah satu ruang kelas, seorang wanita sedang berkutat dengan pensil dan selembar kertas di depannya. Sampai seseorang mendekatinya dan memegang pundaknya.

Wanita dengan pensil dan kertas itu sedikit tersentak dan berbalik dengan perlahan, menatap seseorang di belakangnya. “ ya! Park Haena! Kau tidak lihat aku sedang apa?”

“hmm, menggambar?”

“dan kau mengagetkanku” ucap wanita itu sedikit kesal.

“ehehe..kau serius sekali sih” jawab Haena polos. “gambar siapa lagi ini?” tanya Haena menunjuk secarik kertas di atas meja.

“molla. Aku hanya melihatnya dimimpiku” jawabnya sambil menatap lurus gambar tersebut.

“wah, wah, Taeyoon, imajinasimu sungguh luar biasa! Lihat ini, baju yang dipakainya sangat indah! Seperti seorang putri…” ucap Haena dengan mata berbinar. “tapi, kenapa matanya terlihat sedih?”

Taeyoon mengangkat bahu. “dia memang terlihat seperti itu”

“oh ya, hampir lupa” ujar Haena yang kemudian tersenyum. “aku belum mengerjakan PR. Aku lihat punyamu ya…” bujuk Haena.

Taeyoon meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah buku. “nih” ucapnya seraya melemparkan buku berwarna putih.

“gomawo. Hehe..” kata Haena nyengir dan langsung mengcopy paste PR buatan sahabatnya itu.

“sebaiknya kau cepat menyalinnya. Kau hanya punya 5 menit” ucap Taeyoon seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela. Dia memandangi langit biru, warna kesukaannya, dan sesekali memeriksa keadaan sahabat di sampingnya.

“cepatlah. Waktumu hanya tersisa 1 menit”

“ya! Jangan membuatku gugup!” tanggap Haena mendengar ledekan Taeyoon yang membuat kecepatan menulisnya bertambah.

Taeyoon yang mendengarnya hanya terkekeh sambil melirik temannya yang kelabakan dan kembali menatap langit.

===

“kau yakin dia orangnya?” tanya seorang pria dengan pedang ditangan kanannya.

“saya yakin, tuan. Wajahnya benar-benar mirip, dan lagi simbol di tangannya itu.. tidak salah lagi, dia adalah orang yang kita cari” ucap seorang wanita berjubah sambil melihat cermin yang memantulkan bayangan seorang gadis.

Pria itu kembali menatap cermin dan kemudian tersenyum. “putri Jira…”

TBC

Marketing Satisfy or Create Needs?

This is a little bit confusing. Does ‘Marketing shapes consumer needs and wants’, because nowadays, people have learns how to ‘grow’ the needs and wants of human; or ‘Marketing merely reflects the needs and wants’? Which is mean, the companies always produce the products based on what people needs and wants.

Here is the simple explanation. Marketing create needs and wants means when the product drives and determine the needs and wants of consumer. It’s like when the product is in the market the marketers make the product as their needs and wants. Sometimes the product is something new and people never think before. The company use heavy pull and push strategy in shape the needs and wants.

While marketing merely reflects the needs and wants of consumers means the marketers just make the product that peoples need and want, and don’t push or force the consumer to buy their product, because it is something they need and want.

I have analyzed it one by one, doing some research, trying to understand what marketing really is, and think about some arguments that explain both statements, marketing create or satisfy needs and wants.

Nowadays, technology rapidly developed and marketers have learns how to make the product become the consumers needs and wants. They plant some thoughts in consumers mind that point them to need then buy their product. There are many ways to create needs and wants. Through marketing communication mix, such as advertisements. They try to stimulate human thoughts by using attractive color, sound, and words.

For example, when consumer saw the discounts products from the advertisement and buy it even they originally don’t need the product. Maybe they never think that they need or want the product, but marketers did it. They make consumers think that they need it.

Another example, when someone who have a mobile phone that the factory didn’t produce anymore, the mobile phone and the battery are out of sale. One day the battery is out of order, and there is no other way except to throw the useless mobile phone and because he needs the mobile communication tool, he had to buy the new one.

Companies in this present day know how to get the demand of their product as the result of making them need and want. Like most of the advertisement or the other marketing communication mix, the company use famous people, or celebrities to create need and want. The Samsung Corby TV commercial in South Korea uses 2PM, one of the famous boy bands. Besides TV commercial, Samsung Corby has publicly appeared in one of famous Korean Drama and spontaneously boosts their sales. This creates the need of their fans then as a result they buy the product. Because they think they will have the same thing with their favorite celebrity.

Shape the consumer needs also can be because of awards. One of the largest retail stores, Hypermart, uses this way to increase the needs of their costumer. In this case, they shape the needs to get more profit from the potential buyers. Hypermart, automatically, has made their costumers, even they generally don’t really need or don’t need to buy the products on their retail store, but because of the awards, or for getting the awards that they would get if they frequently buy in large amount, they would make purchase in Hypermart.

Whosoever marketers that can use marketing tools perfectly and effectively could create and shape needs and wants of consumer. That’s why marketers learned how to communicate, and the rapid technology development occur is as the result of creating something new and people never think before, creating and shape needs and wants. I mean, in 1800 era, who ever thought that they need a mobile phone or internet.

In other side, there is a thought that marketing merely reflect the needs and wants of consumer. As the consumers, everyone wish their needs and wants to be fulfilled. In this case, assumed that all of the consumers have knows their needs. Consider the theory of Abraham Maslow. He sought to explain why people are driven by particular needs at particular times. His answer is that human needs are arranged in a hierarchy from most to least pressing – physiological needs (food, water, shelter), safety needs (security, protection), social needs (sense of belonging, love), esteem needs (self-esteem, recognition, status), and self-actualization needs (self-development, and realization). People will try to satisfy their most important needs first. Then they will try to satisfy their next needs that are more important.

I think whether marketing create or satisfy needs is depends on the company’s mission and strategy. For architect companies who help people to make design of buildings, they apply the ‘marketing merely reflects the needs’. They have to do as the order. And for software companies, they sometimes create product that shapes consumer needs. Microsoft often made upgrades that require the user to buy their new product or new upgrade because the old product doesn’t fit to the new upgrade. So, I can say that marketing does both. It creates and also satisfies people’s needs. But, I tried to take position which is I think that marketing tend to satisfy the needs and wants of consumer. I have some various reasons for my opinion.

First I tried to understand what marketing really is. From some sources, I can put two and two together and take conclusion that marketing is the process where company identify and meeting the needs and wants of human, and give them value proposition, means they give the customers a set of benefit. It’s also means to create and managing customer relationships in ways that benefit the organization and its stakeholders.

“Meeting needs profitably”, means the company would be profitable if they create the product that customers need and want. That means satisfying the customers. Consumers are willing to buy as the result of their needs and wants. They don’t want to buy the product they don’t need and want, which mean there is no sales and company don’t get profit at all. I’m pretty sure there’s no company want that happen.

Needs, wants, demands are the core marketing concept. Needs is the basic human requirements, and when it’s directed to the specific objects, it known as wants. Then when they have the ability to pay, that’s demands. All the product that company produce should be meet the needs and wants. That’s why we learn to segment the market and that’s why all of the companies search for the valuable market segments.

Whatever marketers do to promote their product, by advertisements, direct marketing, and others, are to tells the consumers that the product they need are exist and available. Also to inform, persuade, and remind consumers-directly or indirectly-about the product they sell or offer. Considering there are many companies that sell same product in different place, variation, quality, quantity, and price. When product is in introduction period, marketers doing the heavy promotion to introduce the new product. It’s the tight stage of the product. Then in the growth stage marketer start to place the product in the new market segments and shift from product-awareness advertising to product-preference advertising. Somewhere in the product life cycle marketer use advertisement that offers a reason to buy, and use sales promotion that offers an incentive to buy, such as coupons, samples, prices off.

As we know, the market has some segment, there are groups that share the same needs and wants, or they have the different needs and wants. Some researchers try to define segments by looking at descriptive characteristics: geographic, demographic, and psychographic.

The need and want people have is different in every country. People in Indonesia that doesn’t have winter doesn’t need a fireplace or shovels, while in Canada those kind of stuff is very important, and they need it when winter comes. Also Americans, their basic needs, their physiological needs are hamburger, bread, heater in their buildings, while Malaysian needs rice, and don’t need heater. That’s the example how the geographic effects the human needs and wants.

One characteristic that easy to measure by the marketers is demographic segmentation. It’s like differentiate people to its gender, age, family, education, occupation, religion, income, social class, generation, race, and nationality. The babies have the different milk with the adults and the elder, the low-income people don’t need to buy expensive mobile phones; they just go with the cheap one, with the same function.

Also there is segmentation when the marketers divide buyers into groups on the basis of their knowledge of, attitude toward, use of, or response to a product. This is called behavioral segmentation. There are behavioral variables that many marketers believe as the best starting points for constructing market segment: occasions, benefits, user status, usage rate, buyer-readiness stage, loyalty status, and attitude.

Let’s recall again about the Abraham Maslow’s Hierarchy of Needs, the five needs of human. When people have fulfilled their first need, then people will go to satisfy their more-important need. What I want to say here is, intrinsically, we all know what is our need and want, and just when and how we would aware that we need and want is very depending on various situations. In other explanation, things like psychological life-cycle stages may matter. Adults experience certain passages or transformations as they go through life. The behavior people exhibit changes with the times. I can say that human needs and wants are already become the part of mind, it’s in peoples’ sub consciousness. So, when the company produces their product, before that, they must have their research to find out what people needs and wants, eventhough, understanding customer needs and wants is not always that simple. Sometimes it’s quite hard and burn a hole in company’s pocket (high cost). The other people could be doesn’t need a personal computer when it come out in television commercial, but may be the other – could be in different time or place – need that personal computer. Once again I say that’s why we learn marketing.

Some customers have needs of which they are not fully aware, or they cannot articulate that needs, or they use words that require some interpretation. The marketer must probe further. The five needs that the marketers have to know and probe is: stated needs, real needs, unstated needs (the expected needs that the customers sometimes don’t say it), delight needs (when customers get more from they expected), and secret needs. Many experienced marketers try to know what customers’ secret need is, with many ways and methods, although it’s hard to unveil that secret needs. It’s because secret needs is what customers really need and it reflects the real purpose of the customers for needing the product. Once the company uncovers the customers’ secret needs, it would be easy for company to decide what product they will produce and how they will promote, thus the company can deliver the value right to the customers and gain the profit, and so do the customers can be satisfied and even make them loyal to the company if the company’s product and customers’ expectations continuously meet from time to time.

It is right to say that sometimes the company makes customers need and want their product after produce it and make some promotion that will stimulate them to buy. In other words, I can say that marketers shape or create the customers’ needs. But think about this, all this product: car, plane, mobile phone, mobile PC, gas stove, electric stove, LED TV, digital camera, and other product that always developed from time to time, it’s become more and more practical, simple, sophisticated; that’s all is created to satisfy the basic needs of human. The human’s need for communicated, in 13 century, people just communicate by letter, by written messages. And then as the technology is growing people started to know telegram, then after some years, telephone is created. Now, most of the people in the world are using mobile phone as their main communication tool. Just like stove that people use to make food. In the Stone Age, people used the wood from nature and flint to make fire and used it to cook. Then stove with kerosene has found, make it easier for people to make food. Now in modern era, it become more practical and more economical, people start to use gas stove or electric stove. Some company produce eco-friendly product, develop their product, and be up-to-date. That’s what company does to make people think that the product is new, with its new attribute, new size, with some addition, then the company will get more demand and become profitable. People like the new innovation.

To catch customers’ attention to the company’s product, meet their needs and wants, deliver the value, make it profitable for the organization and its stakeholders, create and managing customer relationships. That’s what marketing does. That’s why companies have their own competitive advantages, to compete with the other companies.

In the end, whether to purchase the product the company offer or not, it’s still customers decision. Customers will buy because they need and want. That’s what marketer does, and one of the purposes we learn marketing is to meet what becomes the needs and wants of our customers.

[lyrics] S.M The Ballad – Love Again

yeogi kkaji ingeot gatasseo naye gi eoki
dashin motbol eolgul deulman seuchyeo ga
amu geotdo halsu eobseot deon kkeute seoseo
du son moa gidoman haesseo

ajik motda han nae maeumeul jeon halsu itge

dashi ireona nal gidaryeo jun geudael bogo shipeo
dashi dora ga hago shipeun mal saranghabnida

meomchwo beorin geotman gatasseo sesangi da
haengbok haetdeon shigan deulman seuchyeo ga
naegen eobseul geotman gatatdeon kkeute seoseo
geureohke nan gidoman haesseo

jinachyeo watdeon sarang deureul neukkil su itge

dashi ireona nal gidaryeo jun geudael bogo shipeo
dashi dora ga hago shipeun mal saranghabnida

moreun chae sara wasseo almana sojung haesseot neunji

dashi ireona nal gidaryeo jun geudael bogo shipeo
dashi dora ga hago shipeun mal saranghabnida